<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Seberapa Efektif Training ESQ dan Sejenisnya?</title>
	<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/</link>
	<description>Sajian renyah tentang management skills + business strategy</description>
	<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 00:49:20 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3</generator>
		<item>
		<title>By: Adheel</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-8101</link>
		<dc:creator>Adheel</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 01:45:38 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-8101</guid>
		<description>Saya mau memperbarui komentar lagi nih :D

sebelumnya saya komen di artikel ini pada komen #30

Setelah saya membaca ulang dan melihat kembali fenomena yang mas Yodhia tuliskan disini, sekarang saya bisa menerima dengan pikiran terbuka apa yang mas yodhia sampaikan. 

Memang benar, setelah mengikuti training ESQ, bahkan sampai training lanjutannya, MCB.. saya justru menemukan fenomena yang saya sebut sebagai efek imunitas. Dimana ketika kita sudah mengikuti training ini dan seperti mas yodhia sebutkan sebagai "momen pengakuan dosa massal dalam haru biru penuh tangisan penyesalan", meskipun Alumni ESQ diberikan fasilitas gratis untuk kembali masuk ruangan training, efeknya makin menurun dibanding waktu ikut pertama kali bahkan sampai akhirnya kita imun atau kebal dengan metode "pengakuan dosa" tsb.

Faktanya hanya beberapa orang dari alumni ESQ yang konon sudah mencapai 1 juta lebih itu yang maju kembali men"charge" materi training.

Well, buat yang nggak setuju dengan mas Yodhia, coba deh pahami lagi apa yg dimaksudkan dalam tulisan ini. Bukan Training ESQnya yg tidak bagus, tapi "seberapa efektif" materi training ini mampu mengubah perilaku dari alumninya :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mau memperbarui komentar lagi nih <img src='http://strategimanajemen.net/apps23/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>sebelumnya saya komen di artikel ini pada komen #30</p>
<p>Setelah saya membaca ulang dan melihat kembali fenomena yang mas Yodhia tuliskan disini, sekarang saya bisa menerima dengan pikiran terbuka apa yang mas yodhia sampaikan. </p>
<p>Memang benar, setelah mengikuti training ESQ, bahkan sampai training lanjutannya, MCB.. saya justru menemukan fenomena yang saya sebut sebagai efek imunitas. Dimana ketika kita sudah mengikuti training ini dan seperti mas yodhia sebutkan sebagai &#8220;momen pengakuan dosa massal dalam haru biru penuh tangisan penyesalan&#8221;, meskipun Alumni ESQ diberikan fasilitas gratis untuk kembali masuk ruangan training, efeknya makin menurun dibanding waktu ikut pertama kali bahkan sampai akhirnya kita imun atau kebal dengan metode &#8220;pengakuan dosa&#8221; tsb.</p>
<p>Faktanya hanya beberapa orang dari alumni ESQ yang konon sudah mencapai 1 juta lebih itu yang maju kembali men&#8221;charge&#8221; materi training.</p>
<p>Well, buat yang nggak setuju dengan mas Yodhia, coba deh pahami lagi apa yg dimaksudkan dalam tulisan ini. Bukan Training ESQnya yg tidak bagus, tapi &#8220;seberapa efektif&#8221; materi training ini mampu mengubah perilaku dari alumninya <img src='http://strategimanajemen.net/apps23/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: 4 Top Public Speakers Manajemen dan Bisnis di Tanah Air &#124; blog strategi + manajemen</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-6831</link>
		<dc:creator>4 Top Public Speakers Manajemen dan Bisnis di Tanah Air &#124; blog strategi + manajemen</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 17:00:39 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-6831</guid>
		<description>[...] saja, ESQ sendiri merupakan sebuah ilmu yang atraktif. Dan Ary sendiri berhasil meracik elemen spiritualitas dengan ilmu manajemen secara sangat [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] saja, ESQ sendiri merupakan sebuah ilmu yang atraktif. Dan Ary sendiri berhasil meracik elemen spiritualitas dengan ilmu manajemen secara sangat [&#8230;]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Eko</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-5750</link>
		<dc:creator>Eko</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 08:12:47 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-5750</guid>
		<description>ah, gancil jawabannya... karakter manusia dibentuk dengan intensitas bertahun-tahun. kalau ada orang yang senang mengambil yang bukan haknya, itu juga terbentuk sejak muda bertahun-tahun, tiap hari, dari mereka bangun, tidur lagi, sampai kemimpi-mimpinya. Training 2-3 hari apa jadi solusi? tidak, karena intensitasnya walau besar tapi tidak akan sedahsyat intensitas yang terbangun sepanjang hidup tadi. 

Apa solusinya? intensitas yang setara. Pelatihan ESQ sangat baik untuk awal pembuka. Tapi lalu dilanjutkan. diintenskan. bisa dengan rutin menyelami ESQ, temu alumni, atau paling sederhana dengan buku dan kaset. baca bukunya tiap hari, resapkan. kalau ada kasetnya, putar di mobil pas ke kantor atau pulang kantor, dengarkan tiap hari, seperti proses NLP nanti pasti akan menembus alam bawah sadar kita dan tertanam dalam karakter kita. kuncinya adalah intensitas. karakter manusia adalah intensitas, apa yang mereka tanam dan lakukan sehari-hari. salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ah, gancil jawabannya&#8230; karakter manusia dibentuk dengan intensitas bertahun-tahun. kalau ada orang yang senang mengambil yang bukan haknya, itu juga terbentuk sejak muda bertahun-tahun, tiap hari, dari mereka bangun, tidur lagi, sampai kemimpi-mimpinya. Training 2-3 hari apa jadi solusi? tidak, karena intensitasnya walau besar tapi tidak akan sedahsyat intensitas yang terbangun sepanjang hidup tadi. </p>
<p>Apa solusinya? intensitas yang setara. Pelatihan ESQ sangat baik untuk awal pembuka. Tapi lalu dilanjutkan. diintenskan. bisa dengan rutin menyelami ESQ, temu alumni, atau paling sederhana dengan buku dan kaset. baca bukunya tiap hari, resapkan. kalau ada kasetnya, putar di mobil pas ke kantor atau pulang kantor, dengarkan tiap hari, seperti proses NLP nanti pasti akan menembus alam bawah sadar kita dan tertanam dalam karakter kita. kuncinya adalah intensitas. karakter manusia adalah intensitas, apa yang mereka tanam dan lakukan sehari-hari. salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nardie Aka</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-5524</link>
		<dc:creator>Nardie Aka</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:27:54 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-5524</guid>
		<description>Training ESQ adalah moment seseorang untuk muhasabah diri melalui pendekatan imaniah. Apa yang dilakukan managemen ESQ sudah baik dan perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Saya sendiri adalah alumni ESQ yang merasakan bagaimana training membuka hati nurani untuk jujur menyadari,  mengakui dan akhirnya menyesali semua kesalahan dan dosa yang telah diperbuat. Dan itu adalah bagian dari pintu taubat. Memang benar training selama 2 hari belum cukup, maka alumni harus menjaga nilai-nilai ESQ tersebut dengan menindaklanjuti melalui berbagai kajian atau training lanjutan. Harus kita berikan apresisasi yang tinggi kepada manajemen ESQ yang sudah berijtihad memberikan pemahaman kepada nilai-nilai agama (ISlam) kepada masyarakat melalui training tersebut. Semoga apa yang dilakukan oleh manajemen ESQ mendapat pahala yang layak dari Allah SWT. Salam untuk alumni ESQ Lampung.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Training ESQ adalah moment seseorang untuk muhasabah diri melalui pendekatan imaniah. Apa yang dilakukan managemen ESQ sudah baik dan perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Saya sendiri adalah alumni ESQ yang merasakan bagaimana training membuka hati nurani untuk jujur menyadari,  mengakui dan akhirnya menyesali semua kesalahan dan dosa yang telah diperbuat. Dan itu adalah bagian dari pintu taubat. Memang benar training selama 2 hari belum cukup, maka alumni harus menjaga nilai-nilai ESQ tersebut dengan menindaklanjuti melalui berbagai kajian atau training lanjutan. Harus kita berikan apresisasi yang tinggi kepada manajemen ESQ yang sudah berijtihad memberikan pemahaman kepada nilai-nilai agama (ISlam) kepada masyarakat melalui training tersebut. Semoga apa yang dilakukan oleh manajemen ESQ mendapat pahala yang layak dari Allah SWT. Salam untuk alumni ESQ Lampung.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Fathul Qhulam</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-5023</link>
		<dc:creator>Fathul Qhulam</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 10:41:10 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-5023</guid>
		<description>Hai bung Yudhia, saya coba serius lihat tulisan kamu, eh ujung-ujungnya kamu promosi (alias jualan), hahaha, kalau mau jualan ya jualan aje, jangan jelek-jelikin orang, gimana sih, yakinlah kalau kamu ikhlas Allah akan berikan zam-zam, hasil kepadamu, tapi gimana, ada orang yg tulus dan punya visi yang jelas untuk bangsa, kamu sewot, woi hari gini masih mempermasalahkan ESQ bapak Ary Ginanjar, noh, sudah basi, kamu telat sih hehehe, kalau kamu lakukan 8 tahun yg lalu ya, mungkin2 aja, tapi Allah yg Maha tahu siapa yang punya niat yang baik untuk bangsa ini, coba merenung dulu bung Yudhi, malam-malam tanya dalam hatimu dan engkau akan menemukan jawabannya, good luck.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hai bung Yudhia, saya coba serius lihat tulisan kamu, eh ujung-ujungnya kamu promosi (alias jualan), hahaha, kalau mau jualan ya jualan aje, jangan jelek-jelikin orang, gimana sih, yakinlah kalau kamu ikhlas Allah akan berikan zam-zam, hasil kepadamu, tapi gimana, ada orang yg tulus dan punya visi yang jelas untuk bangsa, kamu sewot, woi hari gini masih mempermasalahkan ESQ bapak Ary Ginanjar, noh, sudah basi, kamu telat sih hehehe, kalau kamu lakukan 8 tahun yg lalu ya, mungkin2 aja, tapi Allah yg Maha tahu siapa yang punya niat yang baik untuk bangsa ini, coba merenung dulu bung Yudhi, malam-malam tanya dalam hatimu dan engkau akan menemukan jawabannya, good luck.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fariz_KS</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-4943</link>
		<dc:creator>fariz_KS</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:30:31 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-4943</guid>
		<description>Artikel Doramir itu sangat menyesatkan.............., kenapa?
Dia itu 1 tahun di Cilegon dan dibantu oleh Krakatau Steel untuk melakukan studi banding tentang budaya Banten......., didalam aktivitasnya sebagai seorang "KAFIR"/tdk ada agama, dia diperbolehkan oleh pak Ary G untuk diwawancarai dan tertarik mengikuti training ESQ di Krakatau Steel ( ikutnya jg setengah2) kok sudah komentar begitu panjang?.........., Bila ada rasa kecemburuan terhadap ESQ...mohon direnungkan..., khuusus mas firdaus putra..., cobalah perbaiki prinsip kehidupan yang positif..., anda tahulah apa yg saya maksud.........</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel Doramir itu sangat menyesatkan&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.., kenapa?<br />
Dia itu 1 tahun di Cilegon dan dibantu oleh Krakatau Steel untuk melakukan studi banding tentang budaya Banten&#8230;&#8230;., didalam aktivitasnya sebagai seorang &#8220;KAFIR&#8221;/tdk ada agama, dia diperbolehkan oleh pak Ary G untuk diwawancarai dan tertarik mengikuti training ESQ di Krakatau Steel ( ikutnya jg setengah2) kok sudah komentar begitu panjang?&#8230;&#8230;&#8230;., Bila ada rasa kecemburuan terhadap ESQ&#8230;mohon direnungkan&#8230;, khuusus mas firdaus putra&#8230;, cobalah perbaiki prinsip kehidupan yang positif&#8230;, anda tahulah apa yg saya maksud&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: firdaus putra</title>
		<link>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-4816</link>
		<dc:creator>firdaus putra</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 06:37:55 +0000</pubDate>
		<guid>http://strategimanajemen.net/2008/02/11/seberapa-efektif-training-esq-dan-sejenisnya/#comment-4816</guid>
		<description>ESQ Training dan Spirit Neoliberalisme
Oleh: Firdaus Putra A.

Seperti kalian, saya pernah mengikuti training ESQ. Saya angkatan ke-14. Bedanya, kalau tak salah, kalian membayar Rp. 320.000 sedang saya Rp. 1000.000 untuk kelas dosen dan guru. Syukurnya, saya digratiskan oleh pihak ESQ Purwokerto. Saat itu, hanya saya sendiri peserta training yang berstatus mahasiswa.

Saya pikir tak ada perbedaan materi yang saya peroleh dengan materi training kalian. Tekniknya pun sama. Kalian masih ingat, LCD layar lebar, ruang yang dingin dan temaram, juga sound system yang menggelegar itu, masih ingat kan? Suasana seperti itu juga yang ditangkap oleh Daromir Rudnyckyj, antropolog dari University of Victoria. Dalam artikelnya dia melukiskan, “The sound in the hall was sometimes elevated to ear-splitting volume and the lights in the room were manipulated to maximize the dramatic effects of the points made. Further, the air conditioning was turned to its lowest setting”.

Saya rasa kalian juga masih ingat dengan “Selamat Pagi!”, atau “Bersenang-senang…”, “Satria ESQ”, dan banyak salam/ jargon lainnya. Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak kalian “bersenang-senang” dalam tamasya pemikiran.

Oh iya, kalian merasa asing kah dengan judul di atas? Judul itu tersusun dari dua frasa utama, “ESQ Training” dan “Spirit Neoliberalisme”. “ESQ Training” saya yakin kalian sudah paham. Lantas apa itu “Spirit Neoliberalisme”? Kata “neoliberalisme” beberapa bulan terakhir sangat booming di media. Oke, saya ingatkan sedikit, saat SBY menggandeng Budiono isu neoliberalisme santer dituduhkan pada Budiono.

Sederhananya, neoliberalisme bisa disamakan dengan perdagangan bebas. Ketentuannya, tarif (bea-cukai) nol persen. Pertukaran barang-jasa-modal terjadi lintas negara dengan sedikit/ bahkan tanpa kontrol negara. Selain itu, ada juga kebijakan neoliberal, misalnya menghapuskan subsidi BBM, tarif dasar listrik, kesehatan, dan pendidikan. Juga ditandai dengan adanya privatisasi (swastanisasi) berbagai bidang yang termasuk “hajat hidup orang banyak” seperti air, listrik, telepon, minyak bumi dan sebagainya. Lantas kenapa “neoliberalisme” begitu buruk citranya? Karena, neoliberalisme pada dasarnya hanya menguntungkan negara-negara maju, di sisi lain membuat negara berkembang menjadi semakin miskin. Itu sederhananya, kalau kalian ingin lebih, silahkan googling saja “neoliberalisme”.

Kemudian apa hubungannya training ESQ dengan spirit neoliberalisme? Saya akan kutipkan sambutan Ary Ginanjar saat training ESQ pada Mei 2004 di Krakatau Steel (KS), “Ladies and gentlemen ... our faith in Allah is the key to all the problems that we face in this global era! This era has brought the elimination of import tariffs on steel. For humans it is darkness, but for Allah it is light. Because the elimination of tariffs is a blessing from Allah! The reduction of import tariffs to zero per cent is a blessing from Allah!” Untuk mempermudah pembacaan, coba kalian ganti “the elimination/reduction of import tariffs” dengan “pasar bebas”, maka pada kalimat terakhir, “… Pasar bebas merupakan berkah dari Allah!”.

Melalui ESQ training, karyawan Krakatau Steel diyakinkan bahwa pasar bebas—yang kemudian memprivatisasi KS—merupakan berkah dari Tuhan. Oleh karenanya, karyawan harus menerima itu sebagai tantangan. Meskipun, faktanya pasar bebas dengan berbagai privatisasinya justru mengancam kesejahteraan pekerja, sebut saja sistem tenaga lepas (outsourcing). Kerelaan karyawan menerima sistem pasar bebas, privatisasi dan tenaga lepas itu selanjutnya dianggap/ diklaim sebagai bentuk “other-worldly salvation”, sebuah bentuk “keselamatan bagi dunia lain” yakni akhirat.

Kemudian, karyawan diarahkan bahwa kerja di KS sama dengan kerja untuk Tuhan, “…they work for God”, itu kata Rinaldi yang adalah saudara Ary Ginanjar. Sehingga, seorang karyawan harus bekerja dengan giat, disiplin, tepat waktu, bertanggungjawab, dan tidak korupsi karena pada dasarnya ia sedang beribadah kepada-Nya. Poinnya, dengan ESQ karyawan dibentuk agar berperilaku dan bekerja dengan baik, demi perusahaan/ Tuhan.

Mari saya ajak kalian “bersenang-senang” lagi dengan otak-atik kata. Apakah sama maksud antara dua frasa ini, “bekerja dengan baik” dan “bekerja baik”? Menurut saya berbeda, entah menurut kalian. Yang pertama berarti bahwa sebagai karyawan, mahasiswa, pelajar, atau pegawai pemerintah kita semua dituntut untuk bekerja sesuai aturan yang ada. Lebih lengkapnya, kita dituntut untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dengan cara mematuhi aturan/ perintah yang ditetapkan. Sedangkan yang kedua, kita dihadapkan pada keadaan dimana ada kebaikan dalam sebuah pekerjaan. Artinya ada nilai yang perlu kita pertimbangkan terlebih dulu sebelum melakukan sesuatu (penj. kerja).

Pada yang pertama, saya kira robot—maaf kalau terlalu kasar—lebih mungkin bekerja dengan baik daripada manusia. Lihat saja, robot tidak perlu bertanya atau mempertanyakan mengapa ia harus bekerja pada sistem tenaga lepas, PHK buruh, gaji rendah dan lain sebagainya. Ia cukup bekerja dengan baik sesuai perintah/ aturan yang ada. Sedangkan yang kedua, hanya ditemukan pada manusia dimana ia bisa berpikir sebelum bekerja apakah hal itu, misalnya, sistem tenaga lepas, PHK buruh, gaji rendah itu baik atau tidak?

Nah, dengan mendasarkan bahwa kalian belajar untuk Allah atau bekerja untuk Allah, maka kalian cukup mengikuti berbagai aturan/ norma/ perintah yang ada. Sekali-kali, karena “our faith in Allah is the key to all the problems” tidak perlulah kalian bertanya mengapa aturan atau sistem itu muncul dan diberlakukan. Kalian, dalam bahasa kasar saya, cukup “do the order!” (kerjakan perintahnya!).

Saya ingin mengajak kalian “bersenang-senang” sekali lagi. Dulu pada abad 16 ada gerakan “etika Protestan”. Saya terangkan sedikit, etika Protestan merupakan sebuah perilaku praktis/metodis seperti disiplin waktu, gemar menabung, sederhana, dan bekerja giat. Basis asumsi gerakan itu bahwa manusia yang dipilih oleh Tuhan, adalah manusia yang sejahtera di dunia. Sehingga masyarakat Protestan kala itu menerapkan sungguh-sungguh beberapa etika di atas. Dampaknya, karena masyarakat giat bekerja dan gemar menabung serta hidup sederhana, timbulah akumulasi modal (capital). Dalam risetnya kemudian Weber menyimpulkan bahwa etika Protestan berhubungan dengan spirit kapitalisme. Hasil riset itu dibukukan dengan judul “The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism” yang juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Dalam artikelnya, Daromir membedakan antara etika Protestan dan spirit kapitalisme dengan ESQ dan spirit neoliberalisme. Perbedaanya kata dia, “This relationship (penj. Etika protestan dan spirit kapitalisme) was contingent and unintentional. In contrast, spiritual reformers in contemporary Indonesia (penj. ESQ training) make the link between corporate success and religious piety in the present. This relationship is not contingent, but by design”. Maksudnya, hubungan antara etika protestan dengan spirit kapitalisme merupakan sebuah dampak yang tidak disengaja (contingent and unintentional). Sebaliknya, hubungan antara ESQ dengan spirit neoliberalisme merupakan sesuatu yang didesain secara sengaja.

Sebelum kalian masuk ke UNSOED, saya pernah berdebat panjang lebar dengan alumni ESQ. Ada 5-6 tulisan tentang analisis saya terhadap ESQ yang bisa kalian baca di www.firdausputra.co.cc. Saya juga menyoroti masalah mahalnya harga training itu. Bayangkan Rp. 320.000 kali mahasiswa baru UNSOED sebanyak 5000 orang, maka akan diperoleh Rp. 1.600.000.000 (Satu milyar enam ratus juta rupiah). Angka yang fantastik, bukan?

Dari tamasya pemikiran di atas, saya termasuk orang yang tidak terlalu berharap dengan training ESQ. Tenang saja, kalian tidak perlu takut karena telanjur mengikutinya. Melalui poling (terbatas) yang sempat saya lakukan, banyak mahasiswa yang mengatakan bahwa efek training itu hanya bertahan tujuh hari dan paling lama satu bulan. Hanya ada beberapa mahasiswa saja mengatakan efek training itu masih terasa sampai sekarang. Sekarang, mari kita buktikan, selama dan sejauh apa efek training itu bagi kalian. Maaf, kalau tamasya ini justru menganggu keyakinan kalian dan tidak menyenangkan lagi. []

* Rencana akan dicetak dan dipublikasikan di buletin WE-Press untuk mahasiswa 2009.

Referensi:

Daromir Rudnyckyj. 2009. “Spiritual Economies: Islam and Neoliberalism in Contemporery Indonesia” pada jurnal Cultural Anthropology. The American Anthropological Association.

____________. 2009. “Market Islam in Indonesia” pada jurnal Journal of the Royal Anthropological Institute. Royal Anthropological Institute.

Max Weber, 2002. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Diterjemahkan oleh Yusup Priasudiarja dengan judul asli The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Pustaka Promethea.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ESQ Training dan Spirit Neoliberalisme<br />
Oleh: Firdaus Putra A.</p>
<p>Seperti kalian, saya pernah mengikuti training ESQ. Saya angkatan ke-14. Bedanya, kalau tak salah, kalian membayar Rp. 320.000 sedang saya Rp. 1000.000 untuk kelas dosen dan guru. Syukurnya, saya digratiskan oleh pihak ESQ Purwokerto. Saat itu, hanya saya sendiri peserta training yang berstatus mahasiswa.</p>
<p>Saya pikir tak ada perbedaan materi yang saya peroleh dengan materi training kalian. Tekniknya pun sama. Kalian masih ingat, LCD layar lebar, ruang yang dingin dan temaram, juga sound system yang menggelegar itu, masih ingat kan? Suasana seperti itu juga yang ditangkap oleh Daromir Rudnyckyj, antropolog dari University of Victoria. Dalam artikelnya dia melukiskan, “The sound in the hall was sometimes elevated to ear-splitting volume and the lights in the room were manipulated to maximize the dramatic effects of the points made. Further, the air conditioning was turned to its lowest setting”.</p>
<p>Saya rasa kalian juga masih ingat dengan “Selamat Pagi!”, atau “Bersenang-senang…”, “Satria ESQ”, dan banyak salam/ jargon lainnya. Nah, pada kesempatan kali ini saya ingin mengajak kalian “bersenang-senang” dalam tamasya pemikiran.</p>
<p>Oh iya, kalian merasa asing kah dengan judul di atas? Judul itu tersusun dari dua frasa utama, “ESQ Training” dan “Spirit Neoliberalisme”. “ESQ Training” saya yakin kalian sudah paham. Lantas apa itu “Spirit Neoliberalisme”? Kata “neoliberalisme” beberapa bulan terakhir sangat booming di media. Oke, saya ingatkan sedikit, saat SBY menggandeng Budiono isu neoliberalisme santer dituduhkan pada Budiono.</p>
<p>Sederhananya, neoliberalisme bisa disamakan dengan perdagangan bebas. Ketentuannya, tarif (bea-cukai) nol persen. Pertukaran barang-jasa-modal terjadi lintas negara dengan sedikit/ bahkan tanpa kontrol negara. Selain itu, ada juga kebijakan neoliberal, misalnya menghapuskan subsidi BBM, tarif dasar listrik, kesehatan, dan pendidikan. Juga ditandai dengan adanya privatisasi (swastanisasi) berbagai bidang yang termasuk “hajat hidup orang banyak” seperti air, listrik, telepon, minyak bumi dan sebagainya. Lantas kenapa “neoliberalisme” begitu buruk citranya? Karena, neoliberalisme pada dasarnya hanya menguntungkan negara-negara maju, di sisi lain membuat negara berkembang menjadi semakin miskin. Itu sederhananya, kalau kalian ingin lebih, silahkan googling saja “neoliberalisme”.</p>
<p>Kemudian apa hubungannya training ESQ dengan spirit neoliberalisme? Saya akan kutipkan sambutan Ary Ginanjar saat training ESQ pada Mei 2004 di Krakatau Steel (KS), “Ladies and gentlemen &#8230; our faith in Allah is the key to all the problems that we face in this global era! This era has brought the elimination of import tariffs on steel. For humans it is darkness, but for Allah it is light. Because the elimination of tariffs is a blessing from Allah! The reduction of import tariffs to zero per cent is a blessing from Allah!” Untuk mempermudah pembacaan, coba kalian ganti “the elimination/reduction of import tariffs” dengan “pasar bebas”, maka pada kalimat terakhir, “… Pasar bebas merupakan berkah dari Allah!”.</p>
<p>Melalui ESQ training, karyawan Krakatau Steel diyakinkan bahwa pasar bebas—yang kemudian memprivatisasi KS—merupakan berkah dari Tuhan. Oleh karenanya, karyawan harus menerima itu sebagai tantangan. Meskipun, faktanya pasar bebas dengan berbagai privatisasinya justru mengancam kesejahteraan pekerja, sebut saja sistem tenaga lepas (outsourcing). Kerelaan karyawan menerima sistem pasar bebas, privatisasi dan tenaga lepas itu selanjutnya dianggap/ diklaim sebagai bentuk “other-worldly salvation”, sebuah bentuk “keselamatan bagi dunia lain” yakni akhirat.</p>
<p>Kemudian, karyawan diarahkan bahwa kerja di KS sama dengan kerja untuk Tuhan, “…they work for God”, itu kata Rinaldi yang adalah saudara Ary Ginanjar. Sehingga, seorang karyawan harus bekerja dengan giat, disiplin, tepat waktu, bertanggungjawab, dan tidak korupsi karena pada dasarnya ia sedang beribadah kepada-Nya. Poinnya, dengan ESQ karyawan dibentuk agar berperilaku dan bekerja dengan baik, demi perusahaan/ Tuhan.</p>
<p>Mari saya ajak kalian “bersenang-senang” lagi dengan otak-atik kata. Apakah sama maksud antara dua frasa ini, “bekerja dengan baik” dan “bekerja baik”? Menurut saya berbeda, entah menurut kalian. Yang pertama berarti bahwa sebagai karyawan, mahasiswa, pelajar, atau pegawai pemerintah kita semua dituntut untuk bekerja sesuai aturan yang ada. Lebih lengkapnya, kita dituntut untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dengan cara mematuhi aturan/ perintah yang ditetapkan. Sedangkan yang kedua, kita dihadapkan pada keadaan dimana ada kebaikan dalam sebuah pekerjaan. Artinya ada nilai yang perlu kita pertimbangkan terlebih dulu sebelum melakukan sesuatu (penj. kerja).</p>
<p>Pada yang pertama, saya kira robot—maaf kalau terlalu kasar—lebih mungkin bekerja dengan baik daripada manusia. Lihat saja, robot tidak perlu bertanya atau mempertanyakan mengapa ia harus bekerja pada sistem tenaga lepas, PHK buruh, gaji rendah dan lain sebagainya. Ia cukup bekerja dengan baik sesuai perintah/ aturan yang ada. Sedangkan yang kedua, hanya ditemukan pada manusia dimana ia bisa berpikir sebelum bekerja apakah hal itu, misalnya, sistem tenaga lepas, PHK buruh, gaji rendah itu baik atau tidak?</p>
<p>Nah, dengan mendasarkan bahwa kalian belajar untuk Allah atau bekerja untuk Allah, maka kalian cukup mengikuti berbagai aturan/ norma/ perintah yang ada. Sekali-kali, karena “our faith in Allah is the key to all the problems” tidak perlulah kalian bertanya mengapa aturan atau sistem itu muncul dan diberlakukan. Kalian, dalam bahasa kasar saya, cukup “do the order!” (kerjakan perintahnya!).</p>
<p>Saya ingin mengajak kalian “bersenang-senang” sekali lagi. Dulu pada abad 16 ada gerakan “etika Protestan”. Saya terangkan sedikit, etika Protestan merupakan sebuah perilaku praktis/metodis seperti disiplin waktu, gemar menabung, sederhana, dan bekerja giat. Basis asumsi gerakan itu bahwa manusia yang dipilih oleh Tuhan, adalah manusia yang sejahtera di dunia. Sehingga masyarakat Protestan kala itu menerapkan sungguh-sungguh beberapa etika di atas. Dampaknya, karena masyarakat giat bekerja dan gemar menabung serta hidup sederhana, timbulah akumulasi modal (capital). Dalam risetnya kemudian Weber menyimpulkan bahwa etika Protestan berhubungan dengan spirit kapitalisme. Hasil riset itu dibukukan dengan judul “The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism” yang juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.</p>
<p>Dalam artikelnya, Daromir membedakan antara etika Protestan dan spirit kapitalisme dengan ESQ dan spirit neoliberalisme. Perbedaanya kata dia, “This relationship (penj. Etika protestan dan spirit kapitalisme) was contingent and unintentional. In contrast, spiritual reformers in contemporary Indonesia (penj. ESQ training) make the link between corporate success and religious piety in the present. This relationship is not contingent, but by design”. Maksudnya, hubungan antara etika protestan dengan spirit kapitalisme merupakan sebuah dampak yang tidak disengaja (contingent and unintentional). Sebaliknya, hubungan antara ESQ dengan spirit neoliberalisme merupakan sesuatu yang didesain secara sengaja.</p>
<p>Sebelum kalian masuk ke UNSOED, saya pernah berdebat panjang lebar dengan alumni ESQ. Ada 5-6 tulisan tentang analisis saya terhadap ESQ yang bisa kalian baca di <a href="http://www.firdausputra.co.cc." rel="nofollow">www.firdausputra.co.cc.</a> Saya juga menyoroti masalah mahalnya harga training itu. Bayangkan Rp. 320.000 kali mahasiswa baru UNSOED sebanyak 5000 orang, maka akan diperoleh Rp. 1.600.000.000 (Satu milyar enam ratus juta rupiah). Angka yang fantastik, bukan?</p>
<p>Dari tamasya pemikiran di atas, saya termasuk orang yang tidak terlalu berharap dengan training ESQ. Tenang saja, kalian tidak perlu takut karena telanjur mengikutinya. Melalui poling (terbatas) yang sempat saya lakukan, banyak mahasiswa yang mengatakan bahwa efek training itu hanya bertahan tujuh hari dan paling lama satu bulan. Hanya ada beberapa mahasiswa saja mengatakan efek training itu masih terasa sampai sekarang. Sekarang, mari kita buktikan, selama dan sejauh apa efek training itu bagi kalian. Maaf, kalau tamasya ini justru menganggu keyakinan kalian dan tidak menyenangkan lagi. []</p>
<p>* Rencana akan dicetak dan dipublikasikan di buletin WE-Press untuk mahasiswa 2009.</p>
<p>Referensi:</p>
<p>Daromir Rudnyckyj. 2009. “Spiritual Economies: Islam and Neoliberalism in Contemporery Indonesia” pada jurnal Cultural Anthropology. The American Anthropological Association.</p>
<p>____________. 2009. “Market Islam in Indonesia” pada jurnal Journal of the Royal Anthropological Institute. Royal Anthropological Institute.</p>
<p>Max Weber, 2002. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Diterjemahkan oleh Yusup Priasudiarja dengan judul asli The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism. Pustaka Promethea.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

